
Di dalam Al Qur’an dijelaskan tanda-tanda kebesaran Allah, kejadian alam, pergantian siang malam, proses kejadian manusia, penciptaan langit dan bumi. Semakin manusia intensif dalam mengaji dan mengkaji, semakin banyak kalam Allah yang menopang proses mengenal Allah, kita temui,
Manusia dibekali Allah dengan akal, yang mampu digunakan untuk merenungi ayat-ayat kauniyyah, Ketika zaman dahulu, manusia memahami bahwa bumi berbentuk kotak dan matahari bergerak mengelilingi bumi, Al Qur’an menjelaskan bahwa bumi itu bulat, dan bumi dan planet bergerak mengitari matahari pada garis edarnya. Waktu itu belum ada perangkat teknologi untuk membuktikannya.
Dalam Surah Fushshilat 41:53 : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.
Catatan: penyebutan Kami, bukan diartikan Allah itu jamak, tetapi memaksudkan Allah dengan segala Nama dan Sifat Nya.
Islam sangat menghargai nilai akal manusia, pun itu digunakan sebagai dalil ‘aqli dalam panduan ma’rifatullah, tetapi akal manusia memiliki pencapaian terbatas untuk mendalaminya, kecuali menyertakan dalil naqli (kitabullah) sebagai panduannya.
Hasil dari berfikir dan meneliti ayat-ayat Allah (riset ilmiah dan sebagainya) dengan berpedoman pada kaidah yang benar secara syari’at, akan menjadikan seseorang dapat menerima kebenaran, kehebatan, dan keagungan Allah.
Surah An Najm 53:11 : “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”
Metode yang benar dalam pengenalan terhadap Allah seperti ini, akan menghasilkan keimanan yang kukuh pada diri manusia. Bagi kita yang tak memiliki kapasitas keilmuan di bidang tertentu, cukuplah kita persaksikan pembuktian yang dilakukan oleh para pakar di bidang tersebut (medis, geografi, anatomi, ilmu falak, matematika dan lain sebagainya). (*)